Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PREDIKSI GEMPA MENGGEMPARKAN INDONESIA
Baru-baru ini, Indonesia kembali di gegerkan dengan adanya pemberitahuan mengenai potensi gempa bumi, yaitu gempa Megathrust 8,7 SR yang berpotensi terjadi di wilayah Indonesia, khususnya wilayah Selatan bagian Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana gempa dan tsunami. Pasalnya, letak geografis Indonesia berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang mempertemukan beberapa lempeng, yaitu lempeng Eurasia, lempeng indo-Australia & lempeng Pasifik.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah ancaman gempa Megathrust. Setidaknya ada 13 segmen Megathrust yang tersebar di wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, sudah memberikan peringatan bahwa gempa dari 2 zona Megathrust tinggal menunggu waktu.
Masing-masing adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Pasalnya, 2 xona itu sudah lama tak mengalami gempa atau seismic gap, yakni berabad-abad. Biasanya, gemba besar memiliki siklus sendiri dalam rentang hingga ratusan tahun.
1. Penjelasan menurut letak Geografis Indonesia
Secara geografis, Indonesia berasa di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang mempertemukan beberapa lempeng, yaitu lempeng Eurasia, lempeng indo-Australia & lempeng Pasifik.
Jika kita flashback ke tahun² lalu, banyak sekali bencana alam yang terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi & tsunami. Hal itu tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh letak geografis Indonesia.
Penyebab banyaknya gunung di Indonesia adalah karena wilayah cincin api tersebut, Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) adalah sabuk geografis yang mengelilingi Samudra Pasifik dan ditandai dengan aktivitas gempa bumi dan vulkanik yang sangat tinggi, dengan sekitar 90% gempa bumi dan 75% gunung berapi aktif di dunia berada di wilayah ini. Jalur ini berbentuk seperti tapal kuda dan terbentuk akibat pergerakan lempeng-lempeng tektonik yang bertabrakan, menyebabkan aktivitas subduksi (lempeng samudra meluncur di bawah lempeng benua) yang memicu gempa dan aktivitas vulkanik.
Gunung berapi terbentuk ketika magma cair di bawah permukaan Bumi naik ke permukaan melalui celah dan kemudian mendingin, memadat, dan menumpuk material vulkanik dari waktu ke waktu. Proses ini umumnya terjadi pada tiga jenis lokasi utama: batas divergen (lempeng saling menjauh), batas konvergen (lempeng saling bertabrakan, terutama di zona subduksi), dan titik panas (area mantel yang sangat panas jauh dari batas lempeng).
Proses terjadinya gempa bumi dimulai saat energi akibat pergerakan lempeng tektonik atau aktivitas vulkanik menumpuk dan menyebabkan batuan di kerak bumi menegang, berubah bentuk, hingga akhirnya patah. Ketika batas elastisitas batuan terlampaui, energi yang tersimpan dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gelombang seismik yang merambat melalui bumi dan menyebabkan permukaan tanah berguncang.
Selanjutnya, perlu diketahui mengenai Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik.
1. Gempa Tektonik
Gempa tektonik adalah gempa bumi yang terjadi akibat pergeseran atau pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi. Gempa ini merupakan jenis gempa paling sering terjadi dan umumnya memiliki kekuatan besar dibandingkan jenis gempa lainnya.
Proses Terjadinya gempa tektonik ialah
1). Lempeng Bumi Bergerak
Bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik besar dan kecil yang selalu bergerak di atas astenosfer (lapisan mantel yang plastis).
2). Tekanan Menumpuk
Ketika dua lempeng saling bertumbukan, menjauh, atau bergeser, akan muncul tegangan dan tekanan pada batuan di batas lempeng.
3). Pelepasan Energi
Jika tekanan tersebut melebihi kekuatan batuan, maka batuan akan patah atau bergeser secara tiba-tiba. Pelepasan energi inilah yang menimbulkan gelombang seismik (gelombang gempa).
4). Getaran di Permukaan
Gelombang seismik menjalar dari hiposentrum (titik di dalam bumi tempat gempa terjadi) menuju epicentrum (titik di permukaan bumi tepat di atas hiposentrum), lalu menyebar ke segala arah dan dirasakan sebagai guncangan.
Ciri-ciri Gempa Tektonik
Biasanya kekuatannya cukup besar (magnitudo > 5 skala Richter sering terjadi).
Sering terjadi di daerah cincin api Pasifik (Ring of Fire), termasuk Indonesia.
Kedalaman hiposentrum bisa dangkal (0–70 km), menengah (70–300 km), atau dalam (>300 km).
Bisa memicu tsunami jika pusat gempanya di bawah laut dan menggeser dasar laut.
2. Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat aktivitas magma di dalam gunung api. Gempa ini biasanya menjadi tanda adanya peningkatan aktivitas vulkanik, misalnya sebelum letusan.
Proses Terjadinya gempa vulkanik ialah
1). Pergerakan Magma
Magma dari dalam mantel bumi bergerak naik melalui rekahan di dalam gunung.
2). Tekanan di Dalam Gunung
Pergerakan magma menimbulkan tekanan besar pada dinding kawah atau batuan sekitarnya.
3). Retakan & Getaran
Tekanan ini menyebabkan retakan atau pergeseran batuan di dalam gunung, menghasilkan getaran yang kita rasakan sebagai gempa vulkanik.
Jenis Gempa Vulkanik
a). Gempa Vulkanik Dalam (Volcano-Tectonic Earthquake)
Sumbernya jauh di dalam perut gunung.
Terjadi akibat tekanan kuat dari pergerakan magma.
Biasanya terasa lebih lemah di permukaan dibanding gempa tektonik.
b). Gempa Vulkanik Dangkal (Shallow Volcanic Earthquake)
Terjadi di dekat kawah atau jalur magma yang dangkal.
Lebih terasa di permukaan, kadang diikuti suara dentuman atau getaran pendek.
Ciri-ciri Gempa Vulkanik
Terjadi di sekitar gunung api aktif.
Sering terjadi berulang-ulang sebelum, saat, atau setelah letusan.
Umumnya kekuatan gempa lebih kecil dibanding gempa tektonik, tapi bisa sangat berbahaya bila memicu letusan besar.
Getaran kadang disertai suara gemuruh dari dalam gunung.
3. FYI (For Your Information)
Apakah Gempa bumi bisa menyebabkan letusan gunung api? Jawabannya bisa, tapi tidak selalu
Hubungan Gempa dan Letusan Gunung Api
1. Pergeseran Lempeng Memicu Tekanan Magma
Gempa tektonik terjadi karena tumbukan, geseran, atau saling menjauhnya lempeng. Jika gempa itu terjadi di dekat gunung api, tekanan dari pergeseran lempeng bisa membuka jalur retakan baru bagi magma untuk naik. Akibatnya, gunung api bisa meletus lebih cepat dari biasanya.
2. Contoh Nyata
Di Indonesia, beberapa letusan gunung berapi tercatat dipicu atau didahului gempa tektonik besar. Misalnya, gempa besar di sekitar Sulawesi dan Maluku pernah memicu peningkatan aktivitas gunung api di sekitarnya. Namun, tidak semua gempa tektonik memicu letusan. Banyak gempa besar terjadi tanpa ada dampak pada gunung api terdekat.
3. Faktor Penentu
Lokasi: hanya gempa tektonik yang dekat dengan gunung api aktif yang berpotensi memicu letusan.
Kekuatan gempa: semakin besar magnitudo, semakin besar pula kemungkinan memengaruhi tekanan magma.
Kondisi gunung api: jika gunung sudah dalam fase “siaga” dengan tekanan magma tinggi, gempa bisa menjadi pemicu. Tapi kalau tidak ada aktivitas magma, gempa biasanya tidak berdampak.
Jadi, Gempa tektonik tidak otomatis menyebabkan letusan gunung api.
Tapi, jika gunung api sedang aktif atau memiliki kantong magma yang siap meletus, gempa tektonik bisa menjadi “pemicu terakhir” yang membuka jalur magma.
Kesimpulan
Gempa meghatrust bisa benar terjadi di indonesia, mengingat wilayah Indonesia yang berada di wilayah cincin api Pasifik dan pertemuan 3 lempeng bumi.
Postingan Populer
Peristiwa menara babel dan asal mula terciptanya banyak bahasa di muka bumi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Memahami Filsafat Barat dan Filsafat Timur
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar