Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Uwais Al-Qarni: Sosok yang Tak Dikenal di Bumi, Namun Terkenal di Langit
Dalam sejarah Islam, ada seorang pemuda yang namanya tidak tercatat sebagai Sahabat Nabi karena belum pernah bertemu Rasulullah $SAW$ secara langsung, namun beliau mendapat gelar sebagai "Sebaik-baik Tabi'in". Ia adalah Uwais al-Qarni, seorang pemuda saleh asal Yaman yang kisahnya menjadi simbol bakti luar biasa kepada orang tua.
Siapakah Uwais al-Qarni?
Uwais tinggal di pinggiran Yaman dalam kondisi miskin dan menderita penyakit kusta. Sehari-hari, ia bekerja sebagai penggembala domba untuk menafkahi ibunya yang sudah tua, lumpuh, dan buta. Meski hidup dalam keterbatasan, Uwais memiliki hati yang terpaut pada Allah dan Rasul-Nya.
Bakti yang Mengguncang Langit
Momen paling mengharukan dalam hidupnya adalah ketika sang ibu mengungkapkan keinginan terakhirnya: berhaji ke Mekkah.
Bagi pemuda miskin di Yaman, membawa ibu yang lumpuh ke Mekkah adalah hal yang hampir mustahil. Namun, Uwais tidak menyerah. Untuk melatih fisiknya, ia membeli seekor anak lembu dan menggendongnya naik-turun bukit setiap hari selama delapan bulan. Orang-orang menganggapnya gila, padahal ia sedang bersiap untuk menggendong ibunya menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Saat musim haji tiba, Uwais benar-benar menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah dengan berjalan kaki. Di depan Ka'bah, ia berdoa agar Allah mengampuni semua dosa ibunya. Karena baktinya ini, Allah menyembuhkan penyakit kustanya, menyisakan hanya satu bulatan putih sebesar dirham di tubuhnya sebagai tanda bagi orang-orang yang mencarinya.
Pesan Rasulullah kepada Para Sahabat
Meskipun Uwais tidak pernah bertemu Nabi Muhammad SAW, beliau memberitahu Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib tentang keberadaan pemuda ini. Rasulullah bersabda:
"Akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari Yaman bernama Uwais... Ia sangat berbakti kepada ibunya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah agar ia memohonkan ampunan untuk kalian."
Pelajaran bagi Kita
Kisah Uwais al-Qarni mengaj koordinasarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari popularitas di dunia atau harta benda. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua. Uwais membuktikan bahwa ketulusan dalam berbakti bisa membuat seseorang dikenal oleh penduduk langit, meski namanya asing bagi penduduk bumi.
Postingan Populer
Peristiwa menara babel dan asal mula terciptanya banyak bahasa di muka bumi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Memahami Filsafat Barat dan Filsafat Timur
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar